Genesis Papua Bukan Tanah Kosong

“Jauh Sebelum Agama dan Negara Hadir. Adat sudah lahir terlebih dahulu. Orang Papua tanpa Adat, ibarat Pohon tanpa akar” 
—Terry Anderson Inggabouw

Mengingat ulang genesis Papua Bukan Tanah Kosong adalah langkah tegas dan prinsipil. Ia menjadi cara dekolonisasi pandangan ditengah arus pembangunan, pemberdayaan, investasi dan militerisasi yang dilakukan Indonesia ke bangsa Papua selama lebih dari 64 tahun. Narasi pembangunan pemberdayaan selalu beriringan dengan pendekatan pemerintah Indonesia yang saat ini menstigma Papua sebagai lahan kosong, tanah tak berpenghuni, layak dibantu-bangunkan. Sehingga, negara menjelma hadir sebagai pemilik, juru penyelamat, namun sembari menghancurkan eksistensi manusia dan tanah Papua yang ada jauh sebelum negara itu ada. 

Sebagaimana kutipan kawan Terry bahwa Negara dan Agama tak bisa mendefinisikan Orang Papua dan identitasnya, bahwa memilih menjadi Papua adalah hal naluriah orang Papua. Sehingga lewat slogan Papua Bukan Tanah Kosong, ia menjadi lonceng peringatan tentang keberadaan orang Papua yang tidak untuk dinegosiasikan. Orang Papua tidak perlu diakui untuk menjadi ada, mereka telah sejak lampau dan akan terus begitu sampai kapanpun.

Dalam historisnya, slogan Papua Bukan Tanah Kosong lahir dari kesadaran resistensi gerakan muda Papua sejak 2016. Ia yang tumbuh di ruang diskusi, kebudayaan, hingga politik perlawanan gerakan muda, ketika orang Papua dan solidaritasnya mulai mengartikulasikan kritik kepada negara dan kekuatan global dalam memandang Papua. Konsep yang dilawan oleh slogan ini adalah terra nullius, sebuah doktrin sejarah yang dibenarkan oleh imperialisme-kolonialisme untuk mencaplok wilayah masyarakat adat di luar Eropa yang dianggap tak berpenghuni mulai dari Australia, Eropa, hingga kawasan global south lainnya.

Slogan ini menjadi alat perlawanan, lewat tulisan, diskusi, poster perlawanan, mural, protes masa, hingga jejak digital sebagai kesatuan kolektif membangun narasi bersama bahwa manusia dan tanah Papua ada sebuah wujud eksistensi sebagai konter narasi buatan kolonialisme, imperialisme, dan segala bentuk penghapusan identitas.

Pada mulanya, terra nullius ala Indonesia hadir di Papua dengan operasi pencaplokan lewat Suara Pidato Sukarno di alun-alun Utara Jogjakarta, yakni: 1) Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda; 2) Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia, dan 3) Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa. Sebuah kumandang kejahatan kemanusiaan yang menghadirkan luka dan trauma politik lintas generasi, serta mengubah tanah Papua sebagai ruang hidup perdamaian menjadi medan tempur berdarah— 24 operasi militer terlaksana hingga 2026, adalah cerita yang terlalu panjang militerisme berdarah sejak Trikora 1961. Operasi yang beriringan dengan penghancuran ekologi yang masif, luas, dan terstruktur di seantero Papua.

Hal yang begitu mudah kita jumpai, sebab militer menjadi jalur toll bagi investasi yang kian merambat di tanah Papua. Pada 1984, lewat operasi militer berbisnis sawit di Keerom, lalu meluas ke Sorong, Merauke dan terus menghancurkan hingga sekarang. Merauke dengan 2,5 juta hektarnya saat ini adalah satu dari sekian primadona Indonesia meski itu telah berlangsung lama.

Papua Bukan Tanah Kosong adalah fakta. Tanah Papua adalah rumah bagi banyak orang. Rumah yang jelmanya tak hanya bangunan, namun juga rumah sebagai tempat bermimpi dan punya harapan, dan tempat segala kemungkinan bermukim. Ketika kolonisasi hadir, perampasan tanah, sampai merubah kelompok masyarakat menjadi pengungsi juga tak hanya fenomena perpindahan tubuh, tetapi menjadi proses kekerasan yang menggeser dan memindah beyond tubuh, tetapi keseluruhan elemen hidup. Tanah Papua tak hanya maujud sebagai wilayah.

Tanah Papua adalah sesuatu yang terus-menerus menjadi dan membentuk; menangkap hasil laut, berkebun, pergi ke gereja—dan pulau dan pantai, bukan sekadar hamparan wilayah yang tenang di peta. Papua, adalah hasil dari perjumpaan yang tak pernah selesai antara mega politik imperial dan kapital, antara kekuasaan dan ingatan kekerasan kolektif. Bahkan pada pembentukan penamaan di tanah papua yang hadir puluhan tahun seolah netral, ternyata penuh keberpihakan politik. Puncak Trikora? Cartenz yang ternyata juga bukan Cartenz. 

Ke bagian selatan, di sana, emas mengendap bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai imajinasi politik penuh kekerasan yang memaknai Papua—bukan sebagai hutan dunia, tetapi sebagai lahan bagi ekonomi global, sekaligus medan intervensi militer yang tak pernah benar-benar akan selesai. Papua sebagai tanah air tidak hanya mengikat ruang. la juga mengatur waktu. Tanah Papua bagi orang Papua dibayangkan sebagai masa depan, saat bagi Jakarta dilihat sebagai kunci penuh janji kemakmuran palsu. Termasuk hamparan garis-garis politik dalam usaha Otonomi Khusus misalnya, tampak tegas di peta politik namun rapuh dalam kemanusiaan. Narasi Papua Bukan Tanah kosong adalah metode membayangkan ulang.