Ekofeminisme: Perlawanan yang Lahir dari Dapur Perempuan

Perempuan Pakel, Banyuwangi, merayakan pendudukan lahan 2025/Alvina NA– CC BY-NC-ND 4.0
Perempuan Pakel, Banyuwangi, merayakan pendudukan lahan 2025/Alvina NA– CC BY-NC-ND 4.0

Ekofeminisme perlu dimaknai sebagai praktik dan perlawanan, bukan sekedar teori. Ini merupakan salah satu poin penting dalam refleksi saya selama terlibat di riset dan kepenulisan tentang konflik perampasan ruang hidup sejak 2016 hingga sekarang. Dalam beberapa tulisan, saya hampir tidak pernah menggunakan kata “ekofeminisme” untuk menjelasan ekofeminisme. Sebab, praktik ekofeminisme lebih penting dari definisi ekofeminisme.

Membaca Ulang Asal-Usul Ekofeminisme

Mari kita lihat asal usul kata “ekofeminisme”. Salah satu catatan yang saya temukan, kata ekofeminisme diciptakan oleh Françoise d’Eaubonne, seorang feminis asal Prancis, dalam buku Le Féminisme ou la Mort (Feminisme atau Kematian) pada tahun 1974. Françoise d’Eaubonne menggunakan ekofeminisme sebagai teori yang mengaitkan penindasan perempuan dan eksploitasi alam oleh sistem patriarki serta mendorong gerakan yang menghubungkan keadilan gender dengan kelestarian lingkungan. 

Dalam catatan lainnya, pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, gerakan ekofeminis modern lahir dari serangkaian konferensi dan lokakarya oleh koalisi akademisi dan profesional perempuan di Amerika Serikat. Mereka mencatat, perempuan dan alam sering digambarkan sebagai orang yang kacau, tidak rasional, dan membutuhkan kendali, sedangkan laki-laki sering kali dicirikan sebagai orang yang rasional, teratur, dan dengan demikian mampu mengarahkan penggunaan dan pengembangan perempuan dan alam. Menurut kelompok ekofeminis, pengaturan ini menghasilkan struktur hierarki yang memberikan kekuasaan kepada laki-laki dan memungkinkan eksploitasi perempuan dan alam, terutama jika keduanya terkait satu sama lain.

Berdasarkan dua catatan itu, saya mengasumsikan bahwa ekofeminisme sudah dipraktikkan oleh perempuan di berbagai wilayah/negara jauh sebelum ekofeminisme didefinisikan dan mulai dibicarakan lebih mendalam. Seperti perjuangan para petani di Desa Pakel untuk merebut hak atas tanah yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1925. Para petani terdampak depresi ekonomi dan krisis malaise akibat perang dunia. Mereka mendirikan perkumpulan petani kemudian mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah Banyuwangi untuk membuka hutan dan mengelolanya menjadi lahan pertanian bagi ribuan petani tak bertanah di Banyuwangi.

Akan tetapi, perjuangan para petani Pakel terus digagalkan oleh aparat pemerintah kolonial yang ingin menjadikan hutan sebagai wilayah tanam perluasan salah satu perusahaan perkebunan kolonial belanda. Hingga hari ini, perjuangan petani Pakel mencapai 1 abad (100 tahun), namun hak atas tanah masih dirampas oleh negara dan perusahaan perkebunan PT Bumisari.

Sulit untuk membayangkan bahwa tidak ada keterlibatan perempuan dalam perjuangan merebut hak atas tanah oleh para petani Pakel sejak 1925. Salah satu penyebab dari kesulitan ini adalah kurangnya catatan, dokumentasi, dan arsip tentang keterlibatan perempuan dalam perjuangan merebut hak atas tanah. Ketika saya mewawancarai beberapa petani perempuan Pakel pada 2024, mereka mengatakan sudah terlibat sejak perjuangan generasi ketiga, sekitar tahun 1970. Para perempuan sudah ikut menanam di tanah reclaiming yang dirampas oleh perhutani.

Pengalaman ngobrol dengan beberapa petani perempuan Pakel membuat saya merefleksikan bahwa secara sadar ataupun tidak, sejarah perjuangan lingkungan cenderung ditulis dengan perspektif laki-laki (historis), bukan perempuan (herstoris). Padahal, banyak cerita keterlibatan perempuan seperti menanam, menyiapkan makanan untuk bekal demonstrasi, menuturkan cerita perjuangan ke anak-anak, hingga menjadi kepala keluarga ketika suami mereka dikriminalisasi.

Pada momen 1 abad perjuangan Pakel, ada satu kutipan dari petani perempuan Pakel yang membuat saya terkesan:

“Seberapapun kuatnya perusahaan membasmi kami, suatu saat pasti kami akan tumbuh lagi, kami akan berjuang lagi, sampai satu abad perjuangan ini. Ibaratnya ya kayak rumput itu kami, disemprot pakai roundup, kami pasti tumbuh lagi”.

Sebuah kutipan yang memaknai perjuangan dengan memadukan semangat perempuan dan sifat tumbuhan. Sebuah kutipan yang mencerminkan pandangan ekofeminisme. Saya tak merasa perlu bertanya apakah mereka tahu istilah dan filosofi ekofeminisme atau tidak. Tapi saya yakin, kutipan-kutipan filosofis itu lahir dari pengalaman dan pengetahuan para petani perempuan yang sehari-hari berinteraksi di dapur. Jadi, ekofeminisme tidak hanya lahir dari forum konferensi feminis dan akademisi perempuan di Amerika Serikat. Ekofeminisme yang sesungguhnya lahir dari obrolan santai petani perempuan di ruang konferensi bernama dapur. 

Saya teringat tulisan “Dapur, Etnobotani, dan Kuasa Puan” oleh Yayum Kumai di Zine Resister 2024 tentang cerita dari dapur perempuan Minangkabau. Bagi Yayum, dapur adalah ruang di mana kreasi, kolaborasi, dan pengetahuan dirawat. Perempuan adalah agen utamanya. Ruangan dapur umumnya berukuran besar dan menjadi bagian dari rumah panggung. Di sanalah terdapat tungku api, tempat penyimpanan bahan makanan, penyimpanan kayu bakar, lemari alat makan, serta karpet (lapik) besar yang terhampar sebagai ruang makan.

Sehabis subuh, keluarga Yayum hampir pasti berkumpul di dapur. Laki, perempuan, anak-anak, hingga nenek serta kakek duduk bersama-sama untuk minum kopi. Biji kopi dari kebun sendiri. Serta penganan ringan seperti ubi rebus, kembang goyang, kacimuih, kacang tanah masak di pasir, garubi, bolu kukus ketan, dan pinyaram. Sebagian besar hasil olahan dapur sendiri dan berasal dari tanaman sekitar.

“Ritual” kopi pagi adalah tempat setara bagi seluruh anggota keluarga. Para lelaki akan bercerita tentang tugas pertaniannya hari itu. Ibu-ibu akan menjelaskan rencana-rencana manajerial keluarga. Anak-anak akan merengek kebutuhan sekolah dan mengaji. Nenek juga tak kalah heboh menceritakan rencana produksi minyak kelapa untuk stok rumah. Tak lupa pula meminta cucu bungsu untuk mengambil sirih di samping surau. Semua saling bercerita, didengar, dan membicarakan berbagai hal. Yayum menulis:

“Dapur juga menjadi ruang untuk mewariskan pengetahuan, khususnya tentang tumbuh-tumbuhan sekitar (etnobotani). Anak-anak terlibat dalam hampir semua proses pengenalan tumbuhan dan pengolahannya. Perempuan menjadi guru utamanya. Pewarisan pengetahuan etnobotani berlangsung di dapur juga. Melalui produksi masakan, obat-obatan herbal, bahan perawatan tubuh, hingga kebutuhan upacara adat”.

Dalam tulisan itu, Yayum tidak menggunakan kata ekofeminisme. Tulisan itu sudah cukup memberi gambaran bahwa perempuan Minangkabau bersama keluarga mereka sudah menjalankan praktik ekofeminisme. Praktik ekofeminisme tak hanya soal perlawanan perempuan terhadap perampasan ruang hidup. Kegiatan perawatan dan pemulihan juga termasuk praktik ekofeminisme. Semua saling terhubung. Kita perlu melihat bahwa praktik perawatan yang dilakukan perempuan Minangkabau di dapur bisa menjadi landasan perlawanan. Seperti catatan akhir di tulisan Yayum: 

“Tonggak dan sendi-sendi kehidupan Minangkabau bergantung pada perempuan. Keahlian mengolah masakan, tanah, hingga menyembuhkan dirawat perempuan untuk peradaban. Dengan demikian, perampasan tanah dan perusakan lingkungan sama dengan membunuh perempuan dan peradaban”.

Perempuan Pakel, Banyuwangi, berkumpul usai masak bersama di dapur umum Posko Perjuangan Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), 2025/Solidaritas Pakel – CC BY-NC-ND 4.0

Merevolusi Dapur menjadi Ruang Merdeka dari Kekangan Patriarki

Setelah memahami bahwa ekofeminisme merupakan perlawanan yang lahir dari dapur perempuan, saya mencoba berhenti sejenak. Merefleksikan kembali hubungan perempuan, lingkungan, dan dapur. Lalu muncul pertanyaan: apakah benar pekerjaan perempuan di dapur selalu merepresentasikan perlawanan perempuan? Bagaimana jika hubungan perempuan, lingkungan, dan dapur malah mengekang gerak perempuan?

Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, muncul kritik yang menyatakan gagasan awal ekofeminisme cenderung meromantisasi hubungan perempuan dan alam (esensialisme). Kritik itu diutarakan oleh feminis seperti Val Plumwood, Janet Biehl, dan Noël Sturgeon. Romantisasi hubungan perempuan dan alam justru memperkuat ideologi patriarki untuk mengekang dan membatasi peran perempuan hanya sebagai pelayan domestik.

Jorgiana Augustine dalam tulisan “Kenapa Feminis Perlu Peduli dengan Isu Lingkungan?” di Zine Resister 2024, memberi catatan awal yang kritis. Jorgiana menjelaskan:

“Pandangan yang menggeneralisasi keterikatan alamiah antara perempuan dan alam akan berpotensi mempertebal stereotip gender dan memperkuat dikotomi peran antara perempuan dan laki-laki, sehingga menjadi kontraproduktif bagi tujuan gerakan feminis maupun lingkungan”.

Benar saja. Dalam budaya patriarki, dapur bisa menjadi salah satu ruang untuk mengekang gerakan perempuan. Jika kita tidak jeli dan hanya meromantisasi hubungan perempuan dan lingkungan, kita tidak akan melihat upaya penindasan yang dilakukan kaum patriarki kepada perempuan. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Seperti refleksi kritis oleh Masayu dari Front Santri Melawan Kekerasan Seksual (Formujeres) pada Hari Santri 2022:

“Selama ini perempuan hanya dianggap ‘kanca wingking’ (teman di belakang) yang urusannya dapur, sumur, kasur. Ini adalah represi yang dihadapi perempuan setiap hari. Revolusi hanya mungkin terwujud dengan partisipasi perempuan. Kita juga tidak dapat menjalankan demokrasi yang baik tanpa perempuan”.

Jorgiana mengingatkan, gerakan feminis dan lingkungan memiliki tujuan fundamental yang sama yaitu untuk menghapus penindasan. Feminisme bertujuan untuk memberantas segala bentuk penindasan terhadap gender, ras, maupun kelas; sementara gerakan lingkungan bertujuan untuk memberantas penindasan terhadap alam.

Berdasarkan catatan kritis itu, saya merasa perlu peran semua pihak untuk memastikan keterlibatan perempuan dalam perjuangan menjaga lingkungan dan melawan perampasan ruang hidup. Saya pernah mendengar cerita dari Alvina, Divisi Kampanye Resister, bahwa pernah ada dalam momen konsolidasi warga Trenggalek melawan pertambangan emas, semua hanya dilakukan oleh para laki-laki. Perempuan hanya di dapur untuk memasak. Lalu, Alvina berupaya mengajak perempuan untuk mendatangi forum konsolidasi serta menyuarakan pendapat mereka.

Menjawab Kritik tentang Romantisasi dalam Ekofeminisme

Ketika para perempuan belum dilibatkan dengan sungguh-sungguh atau perempuan masih merasa terkekang dengan keterlibatan mereka, kondisi ini menjadi sinyal untuk menghadirkan partisipasi aktif. Buku “Panduan Etnografi Terbuka #1” yang disusun oleh Jaringan Etnografi Terbuka, pada halaman 8, menegaskan bahwa kita perlu memastikan terciptanya ruang yang aman–bebas dari penghakiman dan kekerasan–namun juga berani, dalam arti mendorong orang untuk bersuara, bahkan ketika ada ketakutan atau keraguan.

Refleksi kritis ini juga membawa saya pada beberapa catatan penting yang harus diketahui ketika kita bersolidaritas kepada komunitas warga. Pada tahap awal melakukan pendekatan dengan warga, setidaknya kita perlu tahu: Apa saja tujuan dari komunitas warga dalam mempertahankan ruang hidup mereka? Apakah gerakan komunitas warga dijalankan secara setara? Apakah gerakan tersebut melibatkan perempuan, pemuda, dan kelompok yang terdampak lainnya? Apakah narasi yang suarakan sudah berperspektif gender? Apakah ada pihak yang dominan dalam pergerakan tersebut? Apa saja kebutuhan komunitas warga dalam mempertahankan ruang hidup mereka?

Informasi-informasi penting sebagai landasan kita bersolidaritas kepada komunitas warga. Solidaritas yang kita lakukan bisa dalam bentuk apapun, seperti membuat catatan analisis struktural untuk mengurai struktur kekuasaan yang menindas komunitas warga. Kemudian analisis herstoris untuk mengurai konflik perampasan ruang hidup dengan perspektif ekofeminis.

Dalam upaya analisis ini, kita perlu mengetahui: Apa saja dampak perampasan ruang hidup yang telah/akan dialami perempuan, pemuda, dan kelompok yang terdampak lainnya? Bagaimana keterlibatan perempuan, pemuda, dan kelompok yang terdampak lainnya dalam menghadapi konflik perampasan ruang hidup? Apa saja dampak dari keterlibatan perempuan, pemuda, dan kelompok yang terdampak lainnya dalam menghadapi konflik perampasan ruang hidup? Mengapa perempuan, pemuda, dan kelompok yang terdampak lainnya merasa perlu terlibat untuk mempertahankan ruang hidup?

Saya membayangkan, ketika kita mulai mengarsipkan perjuangan komunitas warga dengan perspektif ekofeminisme, kita tidak akan kekurangan referensi untuk membaca gerakan ekofeminisme di Indonesia. Kita bisa mendukung gerakan komunitas warga melalui pengarsipan supaya pengetahuan dan pengalaman perempuan tidak mudah dimusnahkan oleh negara dan perusahaan yang ingin merampas ruang hidup warga.

Upaya ini sudah saya mulai bersama teman-teman di Trenggalek untuk melawan pertambangan emas terluas di Pulau Jawa. Bersama Alvina, Thalia, Jati, Beni, kami anak-anak muda Trenggalek mengarsipkan perjuangan warga melalui film dokumenter Tambang Emas Ra Ritek (2025). Kami juga mengarsipkan riset, dokumen, visual dalam zine film. Film ini menceritakan tentang alasan mengapa masyarakat Trenggalek tidak membutuhkan tambang emas. Warga Trenggalek yang bercerita dalam film ini mulai dari petani, nelayan, perempuan, kelompok agama, seniman, dan kelompok pemuda.

Perempuan di Kecamatan Kampak memasak sembari berdiskusi mengenai ancaman tambang emas Trenggalek/BTS Film Tambang Emas Ra Ritek – CC BY-NC-ND 4.0

Jika dikaitkan dengan ekofeminisme, film Tambang Emas Ra Ritek juga menyoroti bagaimana perempuan Trenggalek yang terlibat melawan tambang emas memiliki kesadaran penuh bahwa mereka adalah pihak yang menggerakkan kehidupan. Kesadaran ini tidak muncul dari kekangan patriarki. Seperti, Anni Latifatun Na’imah, perempuan Desa Sumberbening dan Pengurus Fatayat NU Trenggalek, dalam film Tambang Emas Ra Ritek, yang menegaskan:

“Penolakan tambang ini tidak hanya kita perlukan dari gender laki-laki saja. Perempuan itu juga harus berperan dalam penolakan ini. Yang paling dirugikan dengan adanya tambang itu sebenarnya dari kaum perempuan. Karena semua kehidupan yang menggerakkan itu perempuan”.

Dengan melawan kekangan patriarki, perempuan mampu memilih pekerjaan domestik secara merdeka dan mampu terlibat penuh dalam penolakan tambang emas. Dalam film Tambang Emas Ra Ritek, Denok Ayu Adila, Ketua Nasyiatul Aisyiyah Trenggalek, menyatakan:

“Kegiatan domestik yang dipilih perempuan secara merdeka berarti itu merupakan bentuk perempuan yang merayakan hubungan baik dengan alam. Karena kedekatan itu, kita memiliki peran yang penting dan strategis untuk terlibat dalam pelestarian alam”.