Cerita Sunyi Resiliensi dan Daya Juang Perempuan Nelayan Desa Timbulsloko Demak Hidup di Tengah Kerusakan Ekosistem Pesisir Laut Demak

Data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menjelaskan para perempuan nelayan mampu memberikan kontribusi ekonomi lebih dari 60 persen bagi perekonomian keluarga. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Data Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menjelaskan para perempuan nelayan mampu memberikan kontribusi ekonomi lebih dari 60 persen bagi perekonomian keluarga. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Apa yang terlintas di benak kita apabila mendengar atau membaca kata “rumah”? Mungkin sebagian dari kita akan mengingat “rumah” dengan ingatan yang lekat dengan kenyamanan, kehangatan, dan tempat pulang untuk mengistirahatkan diri setelah lelah seharian melakukan rutinitas di luar. 

Namun, bagaimana apabila “rumah” yang semestinya lekat dengan kenyamanan dan kehangatan tersebut, situasinya berubah disebabkan oleh sesuatu di luar kehendak kita, yaitu oleh eksploitasi lahan pesisir. Eksploitasi lahan pesisir menyebabkan penurunan muka air tanah sehingga amblesnya permukaan tanah dan intrusi air laut. Fenomena ini dikenal dengan nama banjir rob. 

Situasi banjir rob dialami oleh warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak sejak sekitar 10 tahun lalu. Desa Timbulsloko dahulu seperti perkampungan pada umumnya, merupakan daratan yang di atasnya terdapat rumah-rumah warga, beragam tumbuhan atau tanaman, hewan peliharaan dan tentunya manusia yang sejak awal berdirinya desa sudah ada untuk menjaga warisan leluhurnya. Akan tetapi, hari ini apabila kita mengunjungi Desa Timbulsloko, situasinya sangat berbeda. Tidak ada lagi tanaman dan tumbuhan. Tidak ada lagi hewan peliharaan selain kucing dan burung. 

Beberapa warga yang mampu secara ekonomi akhirnya memutuskan untuk pindah karena “rumah” yang tadinya nyaman telah berubah menjadi dikelilingi air laut yang kian naik. Air tersebut terus menetap, tanpa tahu kapan air tersebut akan hilang atau surut dan tentu saja hal tersebut dapat kita bayangkan sejauh mana air yang mengelilingi warga sangat merubah “Rumah” yang tadinya nyaman menjadi tidak nyaman bahkan bisa dikatakan tidak layak apabila ditinggali oleh kita manusia pada umumnya. 

Kapal menuju area perumahan warga: Dari kejauhan terlihat situasi Desa Timbulsloko yang tenggelam air laut yang naik ke daratan. Dulunya Desa Timbulsloko merupakan daratan dan dikelilingi area hijau persawahan. (Demak, 2 Juli 2024, siang).

Cerita Sunyi Perempuan Desa Timbulsloko Berhadapan dengan Rusaknya Ekosistem Pesisir Laut

Pada hari dimana saya mengunjungi Desa Timbulsloko, salah satu ibu yang masih bertahan tinggal di sana mengatakan,sejak tahun 1997 hasil pertanian di sini gemah ripah. Padi, semangka, kacang-kacangan, dan labu dapat tumbuh dan dinikmati hasilnya di sini. Namun, semua itu berubah. Apabila tahun 1997 masih ada tanaman padi sampai pada tahun 2007 air laut terus naik hingga air sampai di depan rumah warga yaitu sekitar tahun 2014 dan hingga hari ini air semakin naik, sehingga area pertanian tadi pun hilang dan sekarang rata dengan air laut. 

Cerita ini hanya sekilas dampak banjir rob yang dialami warga Desa Timbulsloko, khususnya perempuan. Sebelum kita membahas cerita yang lain, mari kita bedah persoalan ini. Apakah penyebab dari adanya banjir rob yang menetap di desa Timbulsloko? Apakah ini situasi alami alam? Apakah memang sudah takdirnya? 

Ternyata, jawabannya tentu tidak sepenuhnya benar. Kondisi pemukiman di Desa Timbulsloko sangat tidak biasa karena sangat dipengaruhi oleh erosi yang parah. Desa itu sekarang menyerupai pemukiman yang dikepung oleh laut. Menurut laporan kompas.com, erosi yang menggerus garis pantai Demak terjadi sejak sekitar tahun 1995 dan berdampak signifikan terhadap alih fungsi lahan. Yang dulunya merupakan areal pertanian berangsur-angsur berubah menjadi tambak ikan, dan sebagian tanahnya kini telah menjadi air. Fenomena ini merupakan akibat dari naiknya permukaan air laut yang dikombinasikan dengan penurunan permukaan tanah yang mencapai kurang lebih 10 sentimeter per tahun.

Lalu apa penyebabnya? Berdasarkan cerita dari warga terdampak, banjir rob semakin parah terjadi akibat pembangunan yang dilakukan secara masif di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, proyek reklamasi di sekitar pesisir Semarang untuk pembangunan perumahan elit dan pembangunan jalan tol Demak.

Pembangunan itu mengubah arus laut dan membuat air masuk ke wilayah daratan di pesisir Demak. Selain pembangunan yang masif, pengambilan air tanah yang dilakukan terus-menerus oleh pembangunan di kota juga bisa mempercepat laju penurunan muka tanah. Dari cerita warga tersebut, tentu kita dapat melihat bagaimana aktivitas korporasi yang eksploitatif berdampak sangat parah terhadap warga Desa Timbulsloko.

Dampak dari bentuk eksploitasi ini jarang dilihat sebagai masalah utama. Alih-alih menertibkan izin perusahaan yang eksploitatif, pemerintah justru terus melancarkan perizinan tersebut tanpa mempertimbangkan dampak kerusakan ekosistem yang ada di sekitar pesisir laut Semarang hingga Demak. Pembahasan terkait perizinan yang ugal-ugalan, dapat dibaca di dalam laporan yang diterbitkan oleh LBH Semarang ataupun WALHI Jawa Tengah. 

Warga saling menyapa dan mengobrol di area pemukiman: warga yang bertahan menaikkan rumah mereka dengan papan-papan kayu yang ditopang pula oleh kayu. (Demak, 2 Juli 2024, siang hari).

Resiliensi dan Daya Juang Perempuan Desa Timbulsloko

Dari cerita terkait penyebab banjir rob atau naiknya air laut ke pemukiman warga ini, tentu sangat berdampak kepada warga khususnya perempuan yang terjadi secara berlapis. Mulai dari dampak secara fisik, psikologis, maupun ekonomi, semuanya dialami oleh warga yang bertahan dan tetap tinggal di sana.

Perempuan secara khusus menanggung dampak yang berbeda yaitu terkait dampak secara fisik. Misalnya, perempuan yang setiap bulannya mengalami menstruasi dan membutuhkan sanitasi yang memadai seperti air bersih yang cukup, hal ini sulit didapatkan karena akses air bersih yang terbatas. Kemudian, perempuan harus berjalan lebih jauh setiap harinya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan kapal terlebih dahulu untuk sampai ke daratan sebagai tambahan informasi, saat ini akses air bersih warga Desa Timbulsloko bersumber dari sumur bor yang mengalirkan air menggunakan listrik ke rumah-rumah warga.

Dari mana listrik tersebut berasal? Yaitu berasal dari tenaga listrik yang dihasilkan oleh panel surya hasil bantuan dari Greenpeace. Lalu akses jalan umum yang dibuat dengan cara “mengurug” sebagian area yang tergenang air dengan tanah dari daratan. Itu merupakan bantuan dari Dompet Dhuafa. Ya, bantuan yang masuk ke desa sebagian besar adalah bantuan yang berasal dari Non-Governmental Organisation (NGO) ataupun individu yang berempati dengan situasi yang dialami warga. Lalu dimana peran pemerintah? Tentu kita sudah mengetahui jawabannya melalui cerita ini.

Dampak lain yang dirasakan oleh perempuan di Desa Timbulsloko yaitu dampak psikologis. Bahwa perempuan merasakan kesedihan yang sangat mendalam akibat menyaksikan rumahnya tenggelam, atau terpaksa menjalani rutinitas yang lebih berat dari biasanya karena harus menggunakan kapal. Begitu juga ketika menyadari anak-anak mereka terampas ruang bermainnya akibat daratan yang berubah menjadi lautan di area perumahannya.

Pada salah satu cerita dari seorang ibu yang tinggal Desa Timbulsloko, a merasakan kesedihan dan rasa pilu yang terus menerus. Sebab, saat anaknya berangkat sekolah, ia harus menyaksikan anaknya berangkat dengan berbasah-basahan karena menyeberangi air agar sampai ke sekolah. Cerita lainnya dari salah seorang ibu juga menuturkan, ketika seorang perempuan di desa ini hamil dan akan melahirkan, perjalanan dari rumah ke fasilitas kesehatan sangat memprihatinkan. Warga harus menunggu kapal datang lalu melanjutkan lagi perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang cukup jauh. Begitu pula ketika anak sedang sakit, warga khususnya seorang ibu harus berupaya ekstra untuk sampai ke fasilitas kesehatan yang memadai. Tidak hanya lelah secara fisik, kondisi emosional dan psikologis perempuan di Desa Timbulsloko sangat memprihatinkan. Seharusnya, kondisi itu tidak pernah terjadi. 

Dampak secara ekonomi juga dirasakan oleh perempuan. Dalam beberapa cerita yang disampaikan oleh Ibu di Desa Timbulsloko, ia harus mengeluarkan dana lebih apabila akan menuju daratan menggunakan kapal. Biaya naik perahu yaitu Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Fasilitas ini hanya digunakan bagi warga yang memiliki uang lebih. Sebaliknya, jika tidak ada uang, mereka harus jalan kaki sejauh 2,5 kilometer untuk menuju daratan.

Adapun fasilitas kapal perahu itu merupakan hasil bantuan dari organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). Uang yang dibayarkan warga untuk menaiki kapal tersebut untuk kebutuhan membeli bahan bakar dan membayar jasa si nahkoda kapalnya. Kapal hanya dapat dinaiki oleh kurang lebih 5-6 orang setiap perjalannya, karena memang bukan kapal besar melainkan kapal kecil seperti sekoci biasa.

Dampak ekonomi lainnya juga dirasakan oleh perempuan. Akibat lahan pertanian yang hilang, hasil tangkapan ikan yang semakin sedikit, serta ekosistem laut yang rusak, banyak perempuan yang masih dalam usia produktif akhirnya beralih pekerjaan menjadi buruh garmen di sekitaran Kota Demak ataupun Kota Semarang. Ada juga perempuan yang memutuskan menjadi buruh migran, Pekerja Rumah Tangga (PRT) ataupun buruh harian lepas, yang tentu pada situasi pekerjaan tersebut tidak memiliki jaring pengaman (seperti upah layak, keselamatan kerja dan hak buruh lainnya).

Terakhir, dampak secara ekonomi dirasakan oleh 103 Kepala Keluarga yang masih bertahan di Desa Timbulsloko. Akibat rumah yang tergenang air cukup dalam (1-2 meter), warga harus menaikkan lantai rumah dan menopangnya dengan kayu. Sedangkan untuk biaya renovasi rumah, warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp12-20 juta supaya rumah dapat ditinggali kembali serta biaya perawatan apabila kayu sudah lapuk. 

Dampak yang dialami perempuan secara berlapis itu tentu belum keseluruhan dampak yang dirasakan oleh perempuan di Desa Timbulsloko. Masih ada dampak yang lain seperti akses pendidikan yang terputus, akses kesehatan yang tidak terpenuhi, serta harapan hidup layak dan bebas dari kemiskinan yang terasa sangat sulit dicapai pada situasi hidup terkepung air laut.

Cerita pilu yang semestinya tidak dialami oleh warga Desa Timbulsloko, terus dijalani oleh perempuan yang bertahan hidup setiap harinya dengan semangat kolektivisme dan bergotong-royong. Perempuan-perempuan warga Desa Timbulsloko menyadari bahwa di tengah keterbatasan akses ruang hidupnya, mereka berusaha membangun semangat satu sama lain untuk terus bertahan dengan membentuk komunitas, melakukan pemberdayaan ekonomi, dan menjadi support system bagi satu sama lain. 

Seorang perempuan pejuang daerah pesisir, bernama Masnu’ah, atau kita sering memanggilnya Mbak Nuk, merupakan seorang yang berhasil mengorganisir perempuan-perempuan yang tinggal di sekitar pesisir Demak. Sehingga, para perempuan itu mampu bangkit dari keterpurukan dan mengubah keterpurukan tersebut menjadi bahan bakar untuk berjuang melawan ketidakadilan serta perampasan ruang hidup yang mereka alami.

Mbak Nuk hadir di tengah situasi kebingungan warga Desa Timbulsloko ketika mereka menghadapi kerusakan ekosistem tersebut. Warga yang sebelumnya mempertanyakan ke mana mereka harus menuntut hak untuk ruang hidup yang layak, semenjak kehadiran Mbak Nuk, warga jadi memahami siapa yang seharusnya dituntut atas dampak yang mereka alami. Akhirnya, mereka menuntut negara yang seharusnya hadir.

Bertahun-tahun Desa Timbulsloko terkepung air laut, namun negara tidak kunjung hadir memenuhi tanggung jawabnya. Meski demikian, warga akan terus mempertahankan apa yang menjadi sumber kehidupannya selama ini. Melalui Mbak Nuk, lalu perempuan-perempuan dan warga Desa Timbulsloko yang bertahan, kita seharusnya belajar dan semakin yakin untuk ikut berempati memperjuangkan hak-hak warga Desa Timbulsloko. Lewat ketulusan Mbak Nuk dan kegigihan warga Desa Timbulsloko, bantuan demi bantuan akhirnya terus hadir ke desa, warga berangsur menyadari bahwa dalam perjuangan ini mereka tidak sendirian.

Mbak Nuk, perempuan pejuang, perempuan yang lahir dan besar dari keluarga nelayan di Demak, saat ini aktif mengorganisir perempuan nelayan bersama Persatuan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI)

Demak, 2 Juli 2024, siang hari.