Hinah Do Dange! Selamat Hari Dange!

Perayaan Dange Inkulturasi Suku Dayak Kayaan Mendalam/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0
Perayaan Dange Inkulturasi Suku Dayak Kayaan Mendalam/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0

Dange adalah perayaan musim panen yang dilakukan setiap tahun oleh Suku Dayak Kayaan Medalaam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Dalam Misa Dange Enkulturasi, terdapat imersi Liturgi Gereja Katolik dengan budaya Dayak Kayaan Mendalam/Rosari Amadea  – CC BY-NC-ND 4.0

Dalam rangkaian perayaan ini, mantra-mantra yang dilantunkan menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tipang (Tuhan) atas panen dan hasil yang telah diterima selama setahun terakhir. Jika sebelumnya persembahan dalam Dange berupa hasil panen ladang, kini makna “panen” diperluas, mencakup iuran uang dan berbagai hasil kerja warga dalam satu tahun terakhir.

Upacara Dange dimulai dengan misa yang dilakukan di dalam Gereja/Rosari Amadea  – CC BY-NC-ND 4.0
Di tengah misa dilakukan ritual Dange/Rosari Amadea  – CC BY-NC-ND 4.0
Setelah misa dilanjutkan dengan acara makan bersama/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0

Misa Dange Inkulturasi merupakan ritual perayaan musim panen yang dileburkan dengan liturgi Katolik dan diadakan di Gereja Katolik Paroki Santo Antonius dari Padua Mendalam. Misa ini menjadi pembukaan Dange di Kayaan Medalaam yang selanjutnya akan diadakan di tiap Ukung (Kampung).

Turut ditampilkan serangkaian tarian yang meramaikan Dange/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0
Pengolesan arang di pipi sebagai tanda telah mengikuti Dange/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0

Perayaan Dange sempat terhenti pada tahun 1972 akibat satu dan lain hal. Hingga pastor asal Kayaan Medalaam, bernama Aloysius J. Ding Ngo, pada tahun 1980 mempelopori inkulturasi ini dengan menerjemahkan liturgi Katolik ke dalam Bahasa Kayaan Medalaam. Terjemahan ini dibukukan dalam Buku “Alaan Telaangjulaan”. Dalam liturgi yang sudah diterjemahkan terdapat liturgi Misa Do Dange (Misa Hari Dange).

Penutup Dange, menari dan menyanyi bersama/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0
Tepat di samping gereja terdapat makam Pastor Aloysius Yohannes, pelopor dari enkulturasi tradisi Gereja Katolik dengan tradisi Kayaan Mendalam. Mengawasi Dange dari jauh, menunai buah yang sudah ditanam/Rosari Amadea – CC BY-NC-ND 4.0